Skip to main content

Membalas tipuan

Keesokan harinya ketika suasana rumah tangganya sudah tenang, Abu Nawas mulai memikirkan berbagai cara untuk mengembalikan kerugiannya. Abu Nawas menemukan sebuah cara mujarab untuk membalas tipuan komplotan pencuri yang telah berhasil membodohinya. Ia kemudian berangkat menuju hutan mencari sebatang pohon yang akan dijadikan sebagai tongkat penghasil uang.
Setelah menemukan sebatang pohon untuk dijadikan tongkat. Ia kemudian kembali ke kota. Sesampai di kota ia singgah di sebuah warung, Abu Nawas kemudian mengacungkan tongkatnya kepada pemilik warung. Pemilik warung itu langsung menghidangkan makanan dan minuman yang diinginkan Abu Nawas. Ia juga mengunjungi ke toko yang lain, hal serupa juga terjadi. Ia hanya mengacungkan tongkatnya dan kemudian pemilik toko langsung memberikan barang yang diinginkan Abu Nawas tanpa harus membayar.
Orang-orang yang menyaksikan merasa sangat heran dengan keajaiban tongkat Abu Nawas, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa harus membeli dan hanya dengan mengacungkan tongkat saja. Berita ini terus tersiar dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga komplotan para pencuri yang telah menipunya. Komplotan pencuri itu akhirnya sepakat untuk kembali membodohi Abu Nawas dan mendapatkan tongkat ajaibnya. Para pencuri itu berpikir, jika mereka mendapatkan tongkat ajaib itu pasti mereka akan cepat kaya.
Akhirnya mereka menemui Abu Nawas yang kala itu sedang duduk di warung yang sering ia singgahi. Abu Nawas yang sebenarnya sangat marah pada mereka, berpura-pura tersenyum menyambut mereka seakan merasa sebelumnya ia tidak pernah ditipu mereka. Salah seorang dari komplotan itu bertanya kepada Abu Nawas,
“Tongkatmu bagus, Apakah engkau akan menjualnya?” Tanya orang itu kepada Abu Nawas.
Dalam hati Abu Nawas merasa sangat gembira karena mereka akhirnya masuk perangkap.
“Tidak, aku tidak akan menjualnya.” Jawab Abu Nawas cuek.
“Kami akan membeli dengan harga yang sangat tinggi!!” Kata salah seorang dari mereka.
“Oh ya, berapa sanggup kalian akan membayarnya?” Tanya Abu Nawas berpura-pura tertarik.
“Kami akan membayar seharga 300 keping dinar emas.” Kata orang itu serius.
“Dengan uang sebanyak itu engkau akan hidup enak beberapa bulan tanpa harus bekerja.” Tambah salah satu pencuri tersebut.
“Tapi tongkat ini adalah tongkat wasiat satu-satunya yang aku miliki.” Kata Abu Nawas berpura-pura menolak tawaran mereka.
Para komplotan pencuri itu terus berupaya meluluhkan Abu Nawas agar bersedia menjual tongkatnya. Dengan berpura-pura berat hati, Akhirnya Abu Nawas berkata,
“Baiklah akan kujual tongkat ini pada kalian. Tapi kalian harus menjaganya dengan baik. jika tidak kalian akan merasakan akibatnya” Kata Abu Nawas sedikit meyakinkan.
Tanpa panjang cerita lagi, Komplotan pencuri tersebut segera membeli tongkat ajaib Abu Nawas. Setelah menerima  seratus keping dinar emas, Abu Nawas kemudian meninggalkan para pencuri itu dan kembali kerumah menjupai istrinya.
Ketika para komplotan pencuri itu hendak meninggalkan warung, mereka mencoba menggunakan keajaiban tongkat itu kepada pemilik warung dan berharap agar minuman dan makanan yang mereka makan tidak diminta bayaran. Salah seorang pencuri yang memegang tongkat mengacungkan tongkatnya kepada pemilik warung. Sudah barang tentu pemilik warung itu marah dan berkata,
“Apa maksudmu mengacungkan tongkat kepadaku?” Tanya pemilik warung itu dengan nada marah.
“Bukankah Abu Nawas mengacungkan tongkat ini kepadamu dan engkau memberikan apa yang dinginkan dan tidak meminta bayaran?” Tanya mereka yang mulai kebingungan
“Benar sekali, tapi harus kalian ketahui. Jika Abu Nawas telah menitipkan sejumlah uang kepadaku sebelumnya dan ia juga berpesan jika aku harus memberikan makanan yang ia inginkan setiap ia mengacungkan tongkat kepadaku!!” Jawab pemilik warung itu.
“Ternyata kita telah tertipu dan rugi besar.” Kata salah seorang pencuri itu dengan sangat kesal.
Para komplotan pencuri itu akhirnya sadar jika mereka sudah tertipu mentah-mentah. Mau tidak mau mereka pun terpaksa menerima kenyataan, karena telah berani memperdayaiAbu Nawas sebelumnya.

Sumber : abu nawas kocak dan bijak (kaminggi apps)

Comments