Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Siasat Menaklukkan Monyet

Pada suatu hari yang cerah, Abu Nawas telah mendapatkan perintah dari Raja Harun Ar-Rasyid untuk mengamati dan mencari tahu kekurangan yang ada pada rakyatnya. Maklumlah, selain terkenal sebagai penyair ulung, Abu Nawas juga termasuk salah satu orang kepercayaan Baginda Raja, karena usulan-usulan dan petuahnya yang seringkali tidak masuk akal, namun tetap bisa menjadi solusi ketika masalah sedang tiba melanda. Pada suatu malam, Abu Nawas melangkahkan kedua kakinya dengan santai menyisir kota. Selama dalam perjalanan, ia sama sekali tidak melihat adanya sesuatu yang dirasa janggal, karena kesejahteraan penduduk pada waktu itu boleh dibilang cukup layak. Akan tetapi, pada saat Abu Nawas tengah berada di depan tanah lapang yang sering digunakan penduduk untuk mengadakan hajatan, tiba-tiba langkah kakinya terhenti dengan adanya kerumunan massa yang begitu banyak. Abu Nawas pun bertanya kepada temannya yang bernama Husein yang secara kebetulan baru melihat pertunjukan di sana. "A...

Gelak Tawa dan Air Mata

Gelak Tawa dan Air Mata Pada sebuah sore di tepian sungai Nil, seekor hyena bertemu dengan seekor buaya. Keduanya berhenti dan saling mengucapkan salam. Hyena berkata, “Bagaimana kabar Anda, Tuan?” Buaya menjawab, “Nasibku hari ini sangat buruk. Aku sering menangis dalam penderitaan dan kesedihanku. Tetapi, makhluk-makhluk lain selalu berkata, ‘Itu hanyalah air mata buaya’. Sungguh tiada terkira betapa sakit diriku mendengar perkataan itu.” Lalu heyna menyahut, “Anda hanya mengeluh tentang penderitaan dan kesedihan Anda sendiri. Pikirkanlah juga penderitaanku ini sejenak. Aku senang melihat keindahan dunia ini, dengan keanehan dan keajaibannya. Dan karena suka citaku itu, aku tertawa seperti halnya dunia ini yang bersuka ria. Namun, orang-orang di dalam rimba hanya menganggapnya ‘Itu hanya tawa heyna saja’.” "Jauhkanlah diriku dari filsafat yang tak pernah tertawa" (Kahlil Gibran, dalam Segenggam Pasir Pantai) (Buku : Ren...

Si Pengigau

Di kota mana aku lahir, pernah hidup seorang wanita dan putrinya, yang mempunyai kebiasaan berjalan dalam tidurnya. Suatu malam, ketika kesunyian menyelimuti bumi, wanita dan putrinya itu berjalan dalam keadaan tertidur, dan mereka bertemu di kebun yang tertutup kabut. Si ibu berkata dan mengigau, “Inilah! Inilah dia musuhku! Engkau yang telah menghancurkan masa mudaku! Engkau yang telah menghancurkan masa mudaku—dan engkau yang membangun hidupmu di atas puing-puing kehidupanku! Seandainya aku dapat membunuhmu!” Dan putirnya pun menjawab dalam igauan, “Kau wanita terkutuk, tua dan licik! Engkau yang telah memisahkan diriku dari kebebasanku! Engkau pula yang menjadikan hidupku tiruan hidupmu yang gagal! Seandainya engkau mati sekarang!” Dan tepat saat itu, seekor ayam jantan berkokok, dan kedua wanita itu terbangun. Si ibu berkata dengan lembut, “Apakah itu engkau anak manisku?” Dan si anak menjawab, “Betul, ibuku sayang.” (Buku...

Sebuah Patung

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki di sebuah perbukitan. Ia memiliki sebuah patung yang dibuat oleh seorang pematung zaman dahulu. Patung itu tergeletak di depan pintu, tertelungkup, dan ia tak sedikit pun memperhatikannya. Suatu hari lewatlah di depan rumahnya seorang lelaki, yang tampak terpelajar, dari kota. Melihat patung itu, ia bertanya pada pemiliknya apakah patung itu akan dijual. Pemilik patung itu tertawa dan berkata, “Ah, siapa yang hendak membeli patung jelek dan kotor itu?” Dan lelaki dari kota itu menjawab, “Kuberi engkau sekeping perak untuk patung itu.” Pemilik patung itu terkejut sambil merasa gembira. Patung itu pun lalu dibawa ke kota, diangkut di atas punggung seekor gajah. Dan beberapa bulan kemudian, lelaki dari perbukitan ini turun mengunjungi kota. Ketika sedang berjalan menyusuri jalanan, orang udik itu melihat banyak orang berkerumun di depan sebuah toko. Seorang lelaki sedang berseru dengan suaranya yang lantang, “Mari masu...

Bahasa Binatang

Dalam pengembaraannya, Abu Nawas singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Abu Nawas telah menguasai bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Abu Nawas ke istana. Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana. Bertanyalah raja pada Abu Nawas, "Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!" "Ia mengatakan," kata Abu Nawas, "Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya." (Kisah Abu Nawas dan Nasrudin Hoja)

Ikan Dimakan Kucing

Ketika memiliki uang cukup banyak, Abu Nawas membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini." Ketika malam itu Abu Nawas pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri- durinya saja. "Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?" Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!" Abu Nawas pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras, "Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?" (Kisah Abu Nawas dan Nasrudin...

Undangan Pesta Saudagar

Abu Nawas menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Abu Nawas pulang kembali. Namun tak lama, Abu Nawas kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya. Tetapi Abu Nawas segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!" Untuk mana ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku." Abu Nawas menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan. Melihat kerakusan sa...

Buang Hajat di Tempat Tidur

Pada suatu waktu, Baginda Raja Harun Ar Rasyid sangat gundah hatinya. Seperti biasa, dirinya ingin sosok Abu Nawas hadir di istana untuk menghibur hati sang raja. Namun, setelah beberapa kali dipanggil, Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya, entah kenapa. Setelah lama berfikir, akhirnya baginda raja menemukan cara agar Abu Nawas bisa hadir di istana kerajaan. Raja menyuruh tiga orang prajurit untuk pergi ke rumah Abu Nawas agar buang air besar di tempat tidurnya. "Pengawal, pergilah ke rumah Abu Nawas dan beraklah di tempat tidurnya, dan kalau kalian berhasil maka masing-masing akan aku berikan uang 1000 dirham," titah raja. "Daulat paduka," jawab ketiga pengawal itu secara bersamaan. Sementara itu, duduk di sebelahnya ada ki Patih yang mendengar obrolan rajanya dengan ketiga pengawal itu. Karena berhubung tugas yang diberikan kepada tiga anak buahnya yang agak aneh, ki patih memberanikan diri untuk bertanya kepada Sang Raja. "Maaf Paduka, buka...

Buang hajat di sungai

Alkisah, Abunawas bertugas menjadi pengawal raja, kemanapun Raja pergi Abunawas selalu ada didekatnya . Raja membuat Undang Undang kebersihan lingkungan, yang pada salah satu pasalnya berbunyi, Dilarang berak di sungai kecuali Raja atau seijin Raja, pelanggaran atas pasal ini adalah hukuman mati. Suatu hari Raja mengajak Abunawas berburu ke hutan, saat itu Raja kebelet berak, karena di hutan maka Raja berak di sungai yang airnya mengalir ke arah utara. Raja berak di suatu tempat, tidak taunya Abunawas ikut berak juga di sebelah selatan dari Raja, begitu Raja melihat ada kotoran lain selain kotoran nya, raja marah, dan diketahui yang berak adalah Abunawas . Abunawas dibawa ke pengadilan, Abunawas divonis hukuman mati, sebelum hukuman dilaksanakan, Abunawas diberi kesempatan membela diri, kata Abunawas “Raja yang mulia, aku rela dihukum mati, tapi aku akan sampaikan alasanku kenapa aku ikut berak bersama raja saat itu, itu adalah bukti kesetiaanku pada paduka raja, karena sampa...

Raja Menjadi Budak

Kadangkala untuk menunjukkan sesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli budak. Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjual Baginda Raja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu mempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang giliran Abu Nawas mengerjai Baginda Raja. Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid. "Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia." "Apa itu wahai Abu Nawas?" tanya Baginda langsung tertarik. "Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia." kata Abu Nawas meyakinkan. "Kalau begitu cepatlah ajak aku ke san...

Bisnis terlarang

Setiap orang di negeri Irak mulai dari anak-anak hingga dewasa mengenal si Abu Nawas. Seperti kali ini, seisi desa merasa keheranan karena Abu Nawas tampak setiap minggunya melakukan perjalanan dari desanya ke desa tetangga yang sudah masuk dalam wilayah kerajaan negara lain. Kali ini, seperti biasanya awal minggu pada suatu bulan, dini hari si Abu Nawas sudah keluar dari rumahnya yang dapat dikatakan sangat sederhana. Di samping rumah sederhana tersebut terdapat kandang kuda yang penghuninya kerap kali berganti. Seperti dini hari itu, Abu Nawas bersiap melakukan perjalanan menuju desa tetangganya sembari menunggang kuda. Keesokan harinya biasanya ia akan pulang ke desanya di negeri Irak tersebut sambil membawa banyak barang. Karuan saja kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan bagi Pak Hamid, tetangganya. Sehingga sore itu ketika Abu Nawas pulang dari perjalanan tak urung ditanyakanlah perihal perniagaannya yang membuat warga sekampung bingung. "Hai Abu Nawas, kemanakah engka...

Nasehat untuk Hartawan

Salah seorang pemuda menjadi kaya karena warisan dari orang tuanya. Kehidupannya drastis menjadi orang kaya dan hampir semua orang ingin berkawan dengannya. Berita akan kekayaan si pemuda ini cepat ersebar hingga ke pelosok desa, dan masyarakat kagum akan megahnya rumah yang dia bangun, ya karena memang tampak berbeda dengan rumah lainnya. Entahlah apa yang ada di hati si pemuda ini, hampir setiap hari dia mengadakan pesta di rumahnya. Karena dibujuk oleh beberapa teman agar menyajikan pesta yang lebih meriah dari hari ke hari, lama kelamaan kekayaannya pun mulai menipis karena untuk pesta meriah yang diadakannya sendiri. Benar saja, hanya dalam waktu yang singkat, uang yang dimiliki pemuda tersebut telah habis, bahkan dirinya tak mampu lagi memberi gaji kepada pembantunya sendiri. Efeknya lagi, kawan-kawannya mulai menjauhinya dengan perlahan-lahan pula. Pemuda tersebut benar-benar menjadi miskin dan hidup sebatang kara tanpa seorang pun yang mendampinginya. Pemuda itu berniat...

Abu Nawas Mau Terbang

Karena di anggap terlalu mengkritik kepemimpinan Raja Harun, maka Abu Nawas ditangkap karena ia dituduh telah melakukan sesuatu yang membahayakan kerajaan sehingga harus dihukum. Namun demikian, Abu Nawas selalu punya alasan untuk meloloskan diri dari hukuman itu. Ia mengaku kepada pengawal kerajaan bahwa ia memiliki ilmu tinggi dan ia akan terbang. Kabar Abu Nawas akan terbang akhirnya terdengar oleh Raja Harun. "Mana mungkin Abu Nawas akan terbang, dia tidak punya sayap, tidak punya alat-alat khusus, apakah ia punya ilmu khusus?" kata Raja Harun kepada pengawalnya. "Kami tidak tahu paduka, tetapi Abu Nawas sangat meyakinkan," jawab pengawal. Hingga dibawalah Abu Nawas menghadap Sang Raja. "Abu Nawas, betulkah kamu mau terbang?" tanya Raja. "Ya Tuanku, memang saya mau terbang," jawab Abu Nawas. "Kapan? dan dimana?" tanya Raja secara beruntun. "Hari Juma'at yang akan datang ini, dan dari menara Masjid Baitul Rakhim, t...

Khutbah jumat Abu Nawas

Kisah Abu Nawas kali ini akan menceritakan tentang khutbah shalat Jumat yang bertopik Api Neraka. Abu Nawas dikenal sebagai mubaligh oleh tetangga dan warga sekitarnya, dan tak jarang ada orang yang berkunjung ke rumahnya hanya sekedar bersilaturrahmi dan meminta petunjuk agar usaha yang dijalankannya berjalan lancar dan diridhai Allah SWT. Namun satu hal pesan dari Abu Nawas ini, bahwa Abu Nawas tak bisa memberikan janji, hanya saja dirinya mengingatkan agar selalu ingat kepada Allah SWT dengan jalan bersedekah. Hari Jumat telah tiba, Abu Nawas yang ditunjuk menjadi imam sekaligus khatib untuk memberikan ceramah pun bersiap berangkat ke masjid. Abu Nawas segera mandi dan berpakaian rapi. Setelah berpamitan dengan istrinya, Abu Nawas lalu melangkahkan kakinya menuju masjid. Tak lama kemudian, terdengar suara adzan. Umat Islam khususnya laki0laki berbondong-bondong menuju masjid dan meninggalkan segala jenis aktifitasnya. Para warga sangat senang dan antusias sekali karena biasa...

Abu Nawas Menilai Syair

Baginda Raja Harun Al Rasyid mempunyai dua orang putra dari permaisurinya. Putra pertama bernama Al Amin dan putra kedua bernama Al Makmun. Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas, sedangkan Al Makmun terkenal rajin dan pintar dalam ilmu dan sastra. Raja sangat menyukai Al Makmun karena kecerdasannya tersebut, dan tentu saja ini membuat sang permaisuri tidak suka lantaran sang raja dianggap pilih kasih. Padahla kduanya kan sama putranya. "Suamiku, kenapa Anda tidak begitu menyayangi Al Amin," tanya permaisuri Zubaidah. "Karena ia tidak bisa membuat syair dan tidak kenal sastra," jawab baginda raja. "Suamiku, sebenarnya kalau mau, Al AMin akan menguasai ilmu sastra daripada saudaranya. Sebenarnya ia lebih cerdas, ia hanya malas saja," kata permaisuri. "Kalau begitu biar besok aku panggil Abu Nawas untuk menguji syairnya," tambahnya. Pagi buta Abu Nawas sudah muncul di istana memenuhi panggilan sang permaisuri. "Abu Nawas, coba ka...

Minta Jodoh

Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga. Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT. Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong...pertimbangkan lagi ya Allah," ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah. Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri. Mungkin Allah tak mengab...

Petinju Kelas berat

Suatu hari di baghdad banyak di pasang reklame pendaftaran pergulatan tinju kelas berat dandi buka untuk umum. Abu nawas ketika berjalan-jalan tak sengaja melihat reklame tersebut dan melihat dengan seksama iming-iming hadiah emas seberat satu klio gram bagi pemenangnya. Abu nawas tertarik dengan hadiahnya maka segera ia langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti perhelatan tinju kelas berat tersebut. Panitia pada heran pada si abu nawas yang berbadan kecil kurus tinggi, kok berani-beraninya mengikuti perhelatan tinju kelas berat, apa dia gak takut mati ? Singkat cerita tibalah saatnya perhelatan tinju kelas berat di laksanakan, pertandingan demi pertandingan telah selesai di laksanakan, tibalah giliran abu nawas dengan lawan petinju kelas yang paling berat. Di panggillah nama petinju yang akan melawan abu nawas tersebut. Namun ketika nama Abu nawas di panggil berkali-kali ternyata si Abu nawas tak menampakkan batang hidungnya. Maka pertandingan abu nawas dengan petinju yang kelasny...

Paling Kaya Raya

Sebagai rakyat kecil, Abu Nawas sering menyelipkan kritikan-kritikan lewat humor-humornya yang jenaka sehingga meski mengena, raja tetapi tak bisa marah dibuatnya. Seperti dalam kisah ini, pasar tempat orang berdagang menjadi heboh gara-gara celotehan Abu Nawas. “Kawan-kawan, hari ini saya sangat membenci perkara yang haq, tetapi menyenangi yang fitnah. Hari ini saya menjadi orang yang paling kaya, bahkan lebih kaya daripada Allah SWT,” ujar Abu Nawas. Omongan Abu Nawas itu sungguh aneh karena selama ini dia termasuk orang yang alim dan taqwa meski suka jenaka. Karuan saja polisi kerajaan menangkap dan menghadapkannya kepada khalifah. “Hai Abu Nawas, benarkah engkau berkata begitu?” tanya khalifah. “Benar, Tuan,” ujarnya santai. “Mengapa kau berkata begitu, sudah kafirkah engkau?” “Saya kira Khalifah-pun sama seperti saya. Khalifah pasti membenci perkara yang haq,” ujarnya. “Gila benar engkau,” bentak khalifah...

Raja di Suruh Cium Pantat Ayam

Pada suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid sedang galau dengan sikap Abu Nawas. Beberapa kali Abu Nawas telah membuatnya malu di depan para pejabat kerajaan. Berlatar belakang dendam inilah akhirnya Raja hendak membuat jebakan terhadap Abu Nawas. Jika Abu Nawas gagal menghadapi jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya. Maka dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setelah melewati beberapa prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya, "Wahai Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan." Abu Nawas tampak bingung dengan perintah tersebut, karena tak biasanya diadisuruh mengambilkan makanan raja. "Mungkin raja ingin menjebakku, aku haruswaspada," kata Abu Nawas dalam hati. Mendapat Petunjuk yang Aneh Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setelah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada ...

Selamat dari Amarah Isteri

Diam-diam, ternyata Abu Nawas memiliki istri yang pencemburu. Pada saat Abu Nawas sering pulang larut malam, ia selalu marah-marah. Pada suatu hari, Abu Nawas keluar rumah hingga larut malam. Hal itu membuat istrinya merasa gelisah dan emosi karena sudah berjam-jam menunggu di rumah. Ia pun tidak bisa tidur gara-gara Abu Nawas yang masih dalam tanda tanya. Bahkan istri Abu Nawas sudah menyiapkan suatu rencana untuk memarahi Abu Nawas ketika dia pulang nanti. Waktu pun sudah menunjukkan larut malam, begitu gelap, namun Abu Nawas tetap saja tak kunjung kembali pulang. Tiba-tiba saja, dalam kondisi yang seperti itu, terdengar suara seperti orang yang hendak masuk dari jendela rumah yang terbuat dari kayu. Mendengar suara itu, istri Abu Nawas pun langsung siap siaga untuk melancarkan aksinya. Dipukul Dengan Kayu Ia menuju jendela sambil memegang sepotong kayu berukuran lumayan besar. Ia berfikir bahwa Abu Nawas sengaja masuk rumah melalui jendela karena takutdidamprat istrinya. Tak lam...

Menipu komandan

Pada suatu pagi hari, Abu nawas muda sedang duduk-duduk bersantai di teras rumahnya. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang komandan dengan beberapa prajuritnya. Sang Komandan bertanya, "Wahai anak muda, dimanakah aku bisa menemukan tempat untuk bersenang-senang di daerah sekitar sini?" "Kalau tidak salah di sebelah sana," jawab Abu Nawas. "Dimanakah tempat itu?" tanya salah seorang prajurit dengan sifat yang tidak menghargai. "Pergilah ke arah sana, lurus tanpa belok-belok, maka kalian akan menjumpai tempat untuk bersenang-senang," jawab Abu Nawas. Rombongan tentara kerajaan itu akhirnya pergi juga menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Abu Nawas. Setelah beberapa saat, kagetlah mereka semua karena tempat yang mereka cari tidak ditemukan, kecuali hanya sebuah komplek kuburan yang sangat luas. Dan tentu saja hal ini membuat para tentara berang karena merasa telah ditipu oleh pemuda tersebut. Mereka pun kembali lagi ke tempat Abu Naw...

Jumlah Orang Buta

Pada suatu waktu di negeri 1001 malam, terjadi percakapan serius antara Abu Nawas dengan Sultan di Istananya yang megah. Sultan memberikan pertanyaan kepada Abu Nawas. Sultan : " Abu Nawas ! berapa banyak wargaku yang buta ! " Abu Nawas mengerutkan dahinya setelah mendapat pertanyaan yang sulit dari Sang Baginda ! Abu Nawas : " Baiklah , Insya Allah besok baru Baginda tahu jumlahnya " Sultan : " Oke Abu Nawas, saya tunggu jawabanmu. Jika jawabanmu salah, maka kamu akan mendapat hukuman " Maka pulanglah Abu Nawas ! Setelah dia sampai di rumahnya, maka dia memutar terus otaknya. Lalu Abu Nawas mendapatkan jawaban dari pertanyaan Sultan. Esoknya, setelah melaksanakan shalat shubuh, Abu Nawas mengambil pelepah pohon kurma yang banyak tumbuh di daerah Baghdad.  Lalu pelepah itu ditarik Abu Nawas menuju tengah-tengah kota. Maka hebohlah segenap warga Baghdad, termasuk sang Baginda. Warga banyak bertanya pada Abu Nawas apa yang dia bawa ! Namun dia tidak me...

Hikayat Luasnya bumi

Suatu ketika Raja Harun Ar-Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Raja. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu member penjelasan yang memuaskan Raja. Padahal Raja sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya. Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Raja menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu. Tidak begitu lama kemudian Abu Nawas dihadapkan. Raja mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam. “Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?” Tanya Abu Nawas ingin tahu. “Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku” kata Raja Harun Ar-Rasyid. “Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan hamba.” “Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas Jagat ...

Membasuh tangan 120 kali

Abu Nawas bekerja sebagai orang kepercayaan Raja Ali Ibnu Bakri. Abu Nawas dikenali sebagai orang cerdik dan ahli dongeng yang termasyhur. Suatu hari Raja mengalami ketegangan fikiran selepas bekerja sepanjang hari mengurus rakyat. Sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas bercerita mengenai kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja, untuk menghilangkan sedikit ketegangan jiwa yang dialaminya. Kebiasaannya, Raja mendengar kisah-kisah Abu Nawas pada malam hari, yaitu sebelum sang raja menidurkan matanya. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia...” Dikisahkan, wahai Raja yang bahagia, salah seorang pelayan istana berkata kepada raja Cina: Wahai Raja zaman ini, tuan rumah memerintahkan para pelayannya agar mengambil air dan semua yang diperlukan untuk membasuh tangan salah seorang tamunya yang dianggap agak ganjil dan aneh. Tamu itu lalu membasuh tangannya dengan air bercampur sabun, garam dan daun sebanyak seratus dua pulu...

Abu Nawas dan Jin

Selain memiliki kecerdikan, Abu Nawas juga dikenal memiliki kejujuran yang sangat besar. Adalah kaum jin yang masih penasaran dan belum percaya akan kejujuran Abu Nawas. Salah satu jin kemudian ingin menguji Abu Nawas. Suatu hari Abu Nawas pergi ke hutan untuk menebang pohon yang kemudian akan dijual untuk biaya kebutuhan keluarganya. Seperti biasanya ia membawa sebuah kapak tua kesayangannya yang akan digunakan untuk menebang. Karena tidak hati-hati ketika bekerja, kapaknya tersebut terlepas dari tangannya lalu terjatuh entah dimana. Abu Nawas pun segera mencari-cari namun tidak kunjung menemukannya. Ia pun duduk duk merenung dengan perasaan sedih. Karena hanya memiliki satu kapak, ia pun merasa sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Dalam perasaan yang sangat sedih itu, tiba-tiba datanglah jin yang menyamar menjadi seorang laki-laki berbaju putih. Jin itu datang dan menggoda Abu Nawas yang kondisinya mulai labil. "Hai Abu Nawas, kenapa kamu terlihat sedih se...

Pengemis dalam kolam yang dingin

Ada seorang saudagar di Bagdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam. “Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama hanya mampu sampai sepertiga malam. Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah kamu berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata si saudagar. “Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian. “Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam disitu,” kata si saudagar. Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya...

Abu nawas dan pedagang sate

Alkisah dahulu kala, ada seorang musafir yang sedang berjalan di tengah pasar. Sang musafir merasa sangat lapar, namun hanya sebungkus nasi putih yang ia miliki saat itu. Akhirnya, ditemuilah seorang penjual sate di pasar tersebut. Ia berhenti sejenak. Ia merasakan bahwa asap yang ditimbulkan oleh pembakaran sate tersebut sangatlah menggoda selera makannya. Dikeluarkanlah sebungkus nasi putih yang dimilikinya itu. Makanlah ia ditengah kepulan asap sate. Setelah sang musafir menyelesaikan makannya, tiba-tiba si penjual sate itu meminta uang kepadanya, karena ia sudah makan dengan asap sate dari dagangan si penjual sate. Musafir :”Mengapa saya harus membayar?” Penjual :”Ya, karna kamu telah makan dengan asap sate saya” Musafir :”Tapi Anda kan tidak menjual asap sate itu” Penjual :”Tapi Anda telah menikmati asap sate saya” Disaat mereka sedang berdebat, melintaslah si Abu Nawas yang sudah terkenal cerdik dalam menyelesaikan permasalaha...

Malu pada pencuri

MALU KEPADA PENCURI Meski hidup sederhana, Abu Nawas dikenal memiliki kebun dan ladang yang luas.Karena kesederhanaannya itu ia tidak pernah memperlihatkan gaya hidup yang mewah layaknya seseorang yang memiliki banyak tanah. Ia banyak memanfaatkan harta dan rezeki yang ia dapat untuk membantu orang-orang miskin disekitarnya. Kesederhanaan Abu Nawas juga ditunjukkan dari rumah yang dimiliki bersama keluarganya. Disana tidak ada barang-barang berharga ataupun barang mewah seperti yang dimiliki para saudarar atau tuan tanah lainnya. Meski dirumah Abu Nawas tidak terdapat barang-barang berharga, entah kenapa seorang pencuri meringsek masuk ke rumahnya untuk mengambil barang-barang berharga yang entah ada atau tidak di rumah Abu Nawas. Diam-diam pencuri itu masuk melalui jendela belakang rumah Abu Nawas.Abu Nawas yang kebetulan berada dirumah saat itu terlihat sangat kaget, ia lalu diam-diam bersembunyi agar tidak diketahui pencuri tersebut. Abu Nawas terus mengawasi pencuri tersebut yan...

Melatih Sapi Mengaji

MENGAJARI LEMBU MENGAJI Tiada henti-hentinya kepintaran Abu Nawas diuji oleh Baginda Raja Harun Ar - Rasyd, kali ini baginda menginginkan Abu Nawas mengajari lembu miliknya untuk mengaji. Tentu saja hal ini mustahil, tapi tidak bagi Abu Nawas semua titah baginda adalah tugas yang wajib untuk diselesaikan mekipun titah baginda tersebut tidak pernah masuk di akal.Abu Nawas tidak ingi dihukum hanya gara-gara melanggar perintah konyol baginda,lagi pulahadiah akan menantinyasetiap ia berhasil menyelesaikan setiap tantangan baginda. Abu Nawas dipangil ke istana untuk menghadap.Baginda langsung memberi perintah padanya, “Hai Abu Nawas !!! Tahukah mengapa kupanggil engkau ke sini?" Tanya baginda. "Ampun baginda, Hamba sama sekali belum tahu." Jawab Abu Nawas. "Aku ingin minta tolong padamu untuk mengajari lembuku mengaji Al - Quran. Jikaengkau tidak sanggup melaksanakan tugas ini niscaya engkau akan kuhukum berat." Kata baginda mengancam. Mendengar perintah bagin...

Perjanjian Pembagian Kambing

PEMBAGIAN KAMBING Suatu hari datanglah tiga orang dari desa menghadap Baginda Raja Harun Ar -  Rasyid di istana. Mereka datan untuk mencari pembenaran pada masalah yang mereka hadapi bersama. Begitu sampai di istana, mereka langsung menghadap baginda yang ketika itu sedang bersama pembesar-pembesar kerajaan. Salah satu dari mereka berkata, "Ampun beribu ampun tuanku !! Kedatangan kami kesini tidak lain hanyalah untuk meminta penyelesaian tentang persoalan yang sedang melilit kami bertiga." Kata salas seorang dari mereka yang bernama Ahmad. "Baiklah, ceritakan apa persoalan kalian?" Tanya baginda. "Begini baginda, saya, Ahmad, mempunyai dua ekor kambing betina, Zulfikar mempunyai seekor kambing jantan, sedangkan Zubair tidak mempunyai kambing. Karena itulah Zubair yang setiap hari harus bekerja menggembalakan kambing. Apabila ketiga kambing itu beranak pinak, maka pembagian keuntungannya juga telah kami sepakati, yakni saya mendapat separuh dari jumlah kambi...

Tanggung Jawab Petugas Pajak

PETUGAS PAJAK Pada suatu waktu, kerajaan Raja Harun Al Rasyd mengalami krisis ekonomi yang buruk, salah satu andalan pemasukan kerajaan yang berasal dari pajak tidak mampu mencapai target yang telah ditetapkan oleh kerajaan. Akibatnya banyak fasilitas umum dan bangunan-bangunan di kerajaan rusak karena tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Baginda raja pun menjadi geram dengan kondisi kerajaan saat itu, padahal kerajaan telah beberapa kali memperluas wilayahnya karena berhasil memenangkan perang. bagaimana tidak, kerajaan telah beberapa kali memenangkan peperangan dan memiliki wilayah makin luas akan tetapi krisis malah muncul dari pajak. Karena kondisi ekonomi kerajaan yang sudah semakin krisis, Baginda raja pun mengadakan pertemuan besar dengan seluruh menteri dan pembantu-pembantu kerajaan. Dari pembantu kerajaan tersebut Abu Nawas termasuk salah satunya, ia baru dua bulan ditunjuk menjadi petugas pajak untuk membantu petugas lainnya. Seluruh menteri dan para pembantu kerajaan...

Menunaikan Nazar Sahabat

TUNAIKAN NAZAR Pada suatu masa di Negeri Persia hiduplah seorang lelaki bernama Abdul Hamid AL Kharizmi. Ia adalah seorang saudagar kaya raya di daerahnya. Namun sayang, ia belum dikarunia seorang pun anak meski sudah beberapa tahun menikah. Sepanjang hari dalam ibadahnya Abdul Hamid senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak, hingga pada suatu hari dalam doanya ia bernazar akan menyembelik seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia. Tanpa diduga, Allah SWT mengabulkan doaanya. Suatu hari, istrinya yang bernama Zazariah berteriak sambil memeluknya dan berkata, "Wahai suamiku...Ternyata Allah SWT sudah mengabulkan doa kita selama ini, aku sedang hamil." Kata istrinya. Mendengar perkataan istrinya, Abdul Hamid merasa sangat bahagia. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga tibalah waktu istri Abdul hamid melahirkan. Istri Abdul hamid melahirkan seorang anak laki-laki.Beberapa hari selanjutnya keluarga Abudul Hamid larut dalam k...