Gelak Tawa dan Air Mata
Pada sebuah sore di tepian sungai Nil, seekor hyena bertemu dengan seekor buaya. Keduanya berhenti dan saling mengucapkan salam.
Hyena berkata, “Bagaimana kabar Anda, Tuan?”
Buaya menjawab, “Nasibku hari ini sangat buruk. Aku sering menangis dalam penderitaan dan kesedihanku. Tetapi, makhluk-makhluk lain selalu berkata, ‘Itu hanyalah air mata buaya’. Sungguh tiada terkira betapa sakit diriku mendengar perkataan itu.”
Lalu heyna menyahut, “Anda hanya mengeluh tentang penderitaan dan kesedihan Anda sendiri. Pikirkanlah juga penderitaanku ini sejenak. Aku senang melihat keindahan dunia ini, dengan keanehan dan keajaibannya. Dan karena suka citaku itu, aku tertawa seperti halnya dunia ini yang bersuka ria. Namun, orang-orang di dalam rimba hanya menganggapnya ‘Itu hanya tawa heyna saja’.”
"Jauhkanlah diriku dari filsafat yang tak pernah tertawa" (Kahlil Gibran, dalam Segenggam Pasir Pantai)
(Buku : Renungan tentang Sang Khalik (2005); Terjemahan; A Treasury of Wisdom: A Collection of the Works of Kahlil Gibran.)
Comments
Post a Comment