Tobat Sang Hakim
Pada suatu waktu di kerajaan Sultan Harun Al Rasyid ini mengalami krisis keadilan. Banyak para hakim adil, arif dan bijaksana meninggal dunia karena usia mereka yang sudah terlalu tua. Posisi mereka pun digantikan oleh hakim-hakim baru, sebagian dari mereka memiliki perangai yang buruk dan menyimpang dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan hukum dan keadilan
Tiadanya keadilan dan kebenaran, semakin meluasnya korupsi dan penyalahgunaan hukum seperti telah menjadi hal yang biasa.
Dalam kekuasaan tiran, ucapan penguasalah yang menjadi hukum dan kepentingan pribadi di atas segala-galanya.
Suatu ketika Abu Nawas mendatangi salah seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Akan tetapi sang hakim memberi alasan sibuk dan tidak mempunyai waktu meninjau dan menandatangani perjanjian Abu Nawas itu. Abu Nawas pun kembali pada hari-hari selanjutnya dan tentu saja sang hakim masih memberikan alasan yang sama.
Karena sudah beberapa kali gagal mendapatkan pelayanan dari sang hakim, Abu Nawas pun sadar jika sang hakim minta disuap untuk menyelesaikan urusan Abu Nawas. Padahal melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan hukum adalah tugas sang hakim dan ia telah digaji oleh kerajaan sehingga tidak perlu lagi menagih uang keadilan pada masyarakat yang membutuhkan pelayanan hukum.
Menyadari hal ini, Abu Nawas lantas merasa prihatin akan keadahan hukum di tempatnya.Sebenarnya Abu Nawas bisa saja melaporkan langsung kepada baginda akan masalah yang edang dialami itu. Akan tetapi Abu Nawas punya cara sendiri untuk menyadarkan sang hakim dari perilaku KKN yang menyimpang itu.
Suatu malam Abu Nawas menyiapkan sebuat gentong yang diisi dengan kotoran sapi, Kemudian di atasnya Abu Nawas mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya, pada pagi harinya Abu Nawas kembali ke tempat sang hakim. Melihat Abu Nawas membawakan sesuatu, sang hakim yang tadinya sedang sibuk tiba-tiba langsung mempunyai waktu melayani dan menandatangani surat perjanjian Abu Nawas.
"Tuan Hakim, apakah pantas tuan mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan?" Canda Abu Nawas mengelabuhi.
Sang hakim tersenyum sambil mengamati gentong itu.
"Ah...engkau jangan terlalu dalam memikirkannya," Kata si hakim mulai terjebak tipu muslihat Abu Nawas.
Hakim tersebut lantas mncolek sedikit mentega dengan ujung jarinya lalu mencicipinya.
"Wah enak benar mentega ini." Kata sang hakim.
"Ya..sesuai dengan ucapan Tuan, jangan terlalu dalam mencolek menteganya," canda Abu Nawas lagi.
Abu Nawas pun segera meninggalkan tempat sang hakim setelah mendapatkan tanda tangannya.
Seusai bertugas, sang hakimn pulang dengan hati yang riang gembira.
Dibawanya gentong itu lantas di panggillah istri dan anak-anaknya untuk bersama-sama memakan makanan pemberian Abu Nawas itu.
Awalnya mereka sekeluarga sangat menikmati mentega itu.
Namun begitu lapisan mentega itu habis, mereka mulai memakan kotoran sapi.
"Apa-apaan ini......baunya sangat busuk seperti kotoran hewan." Kata hakim.
Ia pun langsung teringat akan Abu Nawas. Ia merasa sangat kesal dan rasanya ingin mencingcang atau menjebloskan Abu Nawas kepenjara karena penghinaannya. Akan tetapi, setelah merenung dan berpikir panjang ia pun sadar jika itu adalah cara Abu Nawas untuk menyindirnya agar ia tersadar dari perilaku menyimpang yang selama ini ia lakukan dalam menegakkan hukum dan keadilan.
Sang hakim pun kemudian merasa sangat bersalah atas sikapnya selama ini. Ia lalu mendatangi rumah Abu Nawas dan meminta maaf dan nasehat atas kekhilafannya. Di hadapan Abu Nawas ia berjanji akan menjadi Hakim Yang Adil. (Abu nawas kocak dan bijak: kaminggi apps)
Comments
Post a Comment