MENGAJARI LEMBU MENGAJI
Tiada henti-hentinya kepintaran Abu Nawas diuji oleh Baginda Raja Harun Ar - Rasyd, kali ini baginda menginginkan Abu Nawas mengajari lembu miliknya untuk mengaji. Tentu saja hal ini mustahil, tapi tidak bagi Abu Nawas semua titah baginda adalah tugas yang wajib untuk diselesaikan mekipun titah baginda tersebut tidak pernah masuk di akal.Abu Nawas tidak ingi dihukum hanya gara-gara melanggar perintah konyol baginda,lagi pulahadiah akan menantinyasetiap ia berhasil menyelesaikan setiap tantangan baginda.
Abu Nawas dipangil ke istana untuk menghadap.Baginda langsung memberi perintah padanya,
“Hai Abu Nawas !!! Tahukah mengapa kupanggil engkau ke sini?" Tanya baginda.
"Ampun baginda, Hamba sama sekali belum tahu." Jawab Abu Nawas.
"Aku ingin minta tolong padamu untuk mengajari lembuku mengaji Al - Quran. Jikaengkau tidak sanggup melaksanakan tugas ini niscaya engkau akan kuhukum berat." Kata baginda mengancam.
Mendengar perintah baginda,tidak ada yang bisa dilakukan Abu Nawas selain menerima tugas konyol tersebut. Setelah itu Abu Nawas langsungpergi meninggalkan istana denganmembawa seekor sapi raja yang akan diajari mengaji.
Sesampainya di rumah, Abu Nawas mengikat sapi tersebut pada sebatang pohon kurma. Sedang Abu Nawas beristirahat dirumahnya sambil terus memikirkan jalan keluar darijebakan baginda tersebut. Pada keesokan harinya,Abu Nawas langsung membawa lembu tersebut ke sebuah lapangan dekat rumahnya untuk dilatih. Abu Nawas mulai memukul-mukul lembu itu dengan sebuah cambuk rotan sampai setengah mati. Ketika binatang itu hampir mengamuk, Abu Nawas mengucapkan kata “atau”, “atau”, “atau”. Perkataan itulah yang diajarkan Abu Nawas kepada lembu itu sambil tetap mengayunkan cambukannya tanpa henti. Pekerjaan itu ia lakukan setiap pagi hari sampai tengah hari dan dari dhuhur sampai maghrib selama beberapa hari sehingga ia sudah lupa untuk menghadap ke istana.
Setengah bulan kemudian baginda mengutus seorang pengawal untuk melihat perkembangan Abu Nawas mengajari lembunya mengaji. Alangkah terkejutnya utusan tersebut ketika menyaksikan Abu Nawas sedang mencambuk lembubaginda setengah mati sambil mengucapkan kata “atau”, “atau”, “atau”. Pengawal itu langsung bergegas kembali ke istana untuk melaporkan kejadian yang dilihatnya,
“Mohon ampun baginda, hamba lihat Abu Nawas sedang mengajari lembu itu di sebuah lapangan dekat rumahnya menggunaka sebuah cambuk rotan yang besar. Jika tali pengikatnya tidak kuat pastilah lembu itu lepas dan mengamuk, yang diajarkan tidak lain hanyalah tiga patah kata , yaitu “atau”, “atau”, “atau.” Jelas pengawal itu.
Abu Nawas tidak mengerti dengan maksud laporan pengawal itu, beliau pun segera memerintahkan untuk menghadirkan Abu Nawas ke istana. Sesampainya Abu Nawas di istana, ia langsung ditanya baginda,
“Wahai Abu Nawas, sudahkah engkau mengajari lembuku itu dan apakah lembu itu sudah bisa mengaji Al-Qur’an?” Tanya baginda.
"Sudah bisa sedikit-sedikit, wahai baginda.” Jawab Abu Nawas.
“Tadi aku mengutus seorang pengawal untuk melihatmu, katanya engkau mencambuk lembu itu hampir mati dan mengajarinya kalimat “atau”, “atau”, “atau” bukannya mengajari mengaji. Aku mau tahu apa maksudnya dari perkataan itu?” Tanya baginda.
“Ampun tuanku !! Arti “atau”, “atau”, “atau” itu adalah jika bukan lembu yang mati, atau hamba, atau tuanku, atau tidak ada salah seorang yang mati, hamba tidak akan puas. Sebab sampai habis umurnya sekalipun, binatang itu tidak akan bisa mengaji Al-Qur’an. Itu sebabnya binatang itu hamba cambuk agar mati. Dengan demikian hamba senang karena pekerjaan hamba dapat selesai. Atau hamba yang mati, atau Paduka yang mati, atau salah satu, barulah habis perkara lembu itu.” Jelas Abu Nawas.
Jawaban Abu Nawas membuat nbginda terperanjat dari tempat duduknya. Diam sejenak tidak bisa berkata apa-apa, beliau menyadarijika Abu Nawas telah melakukan tugas darinya yang mungkin tidak mungkin pernah terwujud. Baginda pun kemudian berkata
“Kalau begitu lembu itu boleh kamu ambil, atau kamu jual, atau kamu buat sate atau kamu kawinkan.” Kata baginda.
“Terima kasih banyak baginda!” Kata Abu Nawas sambil memohon diri untuk kembali kerumahnya dengan hati gembira terlepas dari beban tugas aneh sang baginda. (Abu nawas kocak dan bijak: kaminggi apps)
Comments
Post a Comment