Skip to main content

Menunaikan Nazar Sahabat

TUNAIKAN NAZAR

Pada suatu masa di Negeri Persia hiduplah seorang lelaki bernama Abdul Hamid AL Kharizmi.

Ia adalah seorang saudagar kaya raya di daerahnya. Namun sayang, ia belum dikarunia seorang pun anak meski sudah beberapa tahun menikah.

Sepanjang hari dalam ibadahnya Abdul Hamid senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak, hingga pada suatu hari dalam doanya ia bernazar akan menyembelik seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia.

Tanpa diduga, Allah SWT mengabulkan doaanya. Suatu hari, istrinya yang bernama Zazariah berteriak sambil memeluknya dan berkata,

"Wahai suamiku...Ternyata Allah SWT sudah mengabulkan doa kita selama ini, aku sedang hamil." Kata istrinya.

Mendengar perkataan istrinya, Abdul Hamid merasa sangat bahagia.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga tibalah waktu istri Abdul hamid melahirkan. Istri Abdul hamid melahirkan seorang anak laki-laki.Beberapa hari selanjutnya keluarga Abudul Hamid larut dalam kebahagiaan karena baru dikaruniai seorang putra, hingga ia terikan akan nazar yang pernah ia ucapkan dalam sebuah doa.

Sejak teringat akan nazar itu, maka bergegaslah Abdul Hamid mencariseekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia. Beberapa hari Abdul Hamid dengan beberapa pembantunya mencari kambing itu, akan tetapitidak pernah menemukannya. Mulailah gelisah hati si Abdul Hamid karena takut nazarnya tidak dapat ditunaikan.

Dalam kegelisahannya itu,teringat lah ia akan seorang sahabatnya di Negeri Bagdad yang terkenal akan kecerdasannya dalam menyelesaikan banyak persoalan. Segera lah ia mengutus beberapa pembantunya untuk mencari dan membawa Abu Nawas kepadanya. Para utusan itu berangkat ke Bagdad menemui Abu Nawas, setelah beberapa hari perjalanan dan beberapa hari mencari, akhirnya di temukanlah rumah Abu Nawas.

Setelah berjumpa dengan Abu Nawas, para utusan itupun menceritakan maksud kedatangan mereka. Abu Nawas lalu berkata,

"Baiklah, aku pamit pada keluargaku dan segera berangkat bersama kalian." Kata Abu Nawas.

Abu Nawas pun berangkat bersama anak buanya Abdul Hamid, sepanjang perjalanan Abu Nawas terus memikirkan jalan keluar bagi masalah sahabatnya Abdul Azis. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, tibalah Abu Nawas dirumah sahabatnya tersebut, Abu Nawas disambut oleh sahabatnya tersebut dan menceritakan kepada Abu Nawas tentah masalah yang sedang membuat hatinya gundah.

"Berilah aku waktu semalam saja untuk berfikir. Besok pagi akan aku beri jawabannya." Kata Abu Nawas yang memang belum menemukan cara selama di perjalanan.

Hari pun menjelang malam, Abu Nawas yang sudah lelah menempuh perjalanan jauh diminta beristirahat disebuah kamar tamu. Akan tetapi sudah tengah malam Abu Nawas belum bisa menemukanjalan keluar untuk masalah tersebut. Hingga matanya sudah sangat mengantuk, tiba-tiba ia teringat sebuah cara untukmenyelesaikan persoalan sahabatnya itu. Setelah cara ditemukan barulah Abu Nawas dapat tertidur dengan lelap.

Keesokan harinya, Abu Nawas segera meminta pembantu Abdul hamid menyediakan seekor kambing biasa. Abu Nawas merencanakan sebuah kejutan untuk sahabatnya itu. Setelah kambing disediakan, Abu nawas kemudian memanggil sahabatnya Abdul hamid beserta istrinya. Abu Nawas kemudian berkata,

"Wahai sahabatku, aku sudah menemukan kambing yang kau cari-cari selama ini, dan engkau dapat menunaikan nazarmu dengan segera menyembelih kambing ini." Kata Abu Nawas.

Abdul Hamid kaget dan bingung ketika melihat kambing yang dimaksud Abu Nawas, ia kemudian berkata,

"Wahai Abu Nawas, bukankan itu kambing biasa dan sama seperti kambing lainnya. Kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia." Kata sahabatnya dengan wajah lesu dan perasaan ragu.

Mendengar perkataan sahabatnya itu, Abu Nawas kemudian memintanya untuk membawa bayi laki-lakinya yang baru lahir itu kepada Abu Nawas. Setelah menerima anak bayi laki-laki itu, Abu Nawas kemudian berkata,

"Wahai sahabatku, lihatlah bukankah tanduk kambing ini sebesar jengkal manusia?" kata Abu Nawas seraya meletakkan jengkal anak bayi itu pada tanduk kambing dan memperlihatkan pada Abdul Hamid beserta istrinya.

Melihat itu, barulah Abdul Hamid dan istrinya mengerti. Mereka sangat lega dan gembira karena telah berhasil menunaikan nazar mereka.Amreka pun akhirnya sangat berterimakasih kepada Abu Nawas karena telah membantu mereka melewati persoaalan rumit yang mereka hadapi. (Abu nawas kocak dan bijak: kaminggi apps)

Comments