Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki di sebuah perbukitan. Ia memiliki sebuah patung yang dibuat oleh seorang pematung zaman dahulu. Patung itu tergeletak di depan pintu, tertelungkup, dan ia tak sedikit pun memperhatikannya.
Suatu hari lewatlah di depan rumahnya seorang lelaki, yang tampak terpelajar, dari kota. Melihat patung itu, ia bertanya pada pemiliknya apakah patung itu akan dijual.
Pemilik patung itu tertawa dan berkata, “Ah, siapa yang hendak membeli patung jelek dan kotor itu?”
Dan lelaki dari kota itu menjawab, “Kuberi engkau sekeping perak untuk patung itu.”
Pemilik patung itu terkejut sambil merasa gembira.
Patung itu pun lalu dibawa ke kota, diangkut di atas punggung seekor gajah. Dan beberapa bulan kemudian, lelaki dari perbukitan ini turun mengunjungi kota. Ketika sedang berjalan menyusuri jalanan, orang udik itu melihat banyak orang berkerumun di depan sebuah toko. Seorang lelaki sedang berseru dengan suaranya yang lantang, “Mari masuk, dan lihatlah patung terindah, yang paling menakjubkan di seluruh dunia. Hanya dengan dua keping perak, Anda dapat melihat karya hebat dari seorang ahlinya.”
Orang udik itu ikut membayar dua keping perak untuk memasuki toko dan melihat patung yang dulu dijualnya dengan sekeping perak saja.
(Buku : Renungan tentang Sang Khalik (2005); Terjemahan; A Treasury of Wisdom: A Collection of the Works of Kahlil Gibran.)
Comments
Post a Comment