Skip to main content

Telur beranak

TELUR BERANAK

Suatu sore sepulang kerja, Abu Nawas duduk santai diberanda rumahnya. Ia sedang berpikir keras bagaimana cara memberikan makan keluarganya beberapa minggu kedepan, hal itu mengingat karena Baginda Raja Harun Al Rasyd jarang memanggil ia menghadap ke istana sehingga ia tidak mendapat hadiah dari baginda, sedangkan upah dari pekerjaannya tidaklah seberapa.

ketika sedang bersantai dan terus memutar otaknya, tiba-tiba pandangan Abu Nawas menuju ke sebuah rumah mewah dan sangat luas berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya. Rumah tersebut adalah rumah orang kaya dan tuan tanah di kampung itu. Rumah tersebut sangat lengkap, juga tersedia gudang penyimpanan makanan, peternakan, perkebunan dan lainnya. Hampir semua orang di kampung itu bekerja pada tuan tanah tersebut, termasuk Abu Nawas. Akan tetapi masalahnya tuan tanah tersebut sangat kikir dan tamak.

Sebelumnya, Abu Nawas dikampung itu sangat dikenal dengan bermacam kehebatannya. Salah satunya adalah membuat segala benda beranak. Sebenarnyakabar ini sudah biasa terdengar dikalangan masyarakat disana, ceritanya adalah setiap kali Abu Nawas meminjam sesuatu pasti akan dikembalikan secara lebih dengan alasan beranak. Alasan tersebut lah yang membuat orang-orang disana sangat senang meminjamkan sesuatu kepada Abu Nawas.

Dari ini, abu nawas mulai berpikir ingin meminjam sesuatu, tapi kali ini ia akan meminjam pada tuan tanah yang kikir dan tamak itu. Abu Nawas segera beranjak dari duduknya menuju rumah tuan tanah tersebut.sesampainya disanaAbu Nawas langsung menyampaikan maksudnya ingin meminjam tiga butir telur dari tuan tanah tersebut. Kontan saja si tuan tanah  senang bukan kepalang karena mengetahui jikatelurnya nanti akan beranak saat dikembalikan Abu Nawas. Karena kesempatan itu, situan tanah mulai menggunakan segala cara agar Abu Nawasmeminjam uang padanya dengan harapan juga akan beranak, ia juga menawarkan pinjaman-pinjaman lain kepada Abu Nawas, tetapi semuanya ditolak. Abu Nawas hanya meminja tiga butir telur kepadanya. Saat tuan tanah menanyakan kapan telur itu akan beranak, Abu Nawas menjawab itu tergantung dengan keadaan. kemudian pamit meninggalkam rumah tuan tanah tersebut.

Empat hari sudah berlalu, Abu Nawas pun mengembalikan telur yang dipinjamnya dengan lima butir telur. Tuan tanah sangat gembira dan dia menawarkan pinjaman lagi. Abu Nawas pun meminjam piring sebanyak dua buah dan tuan tanah itu dengan senang hati meminjamkannya dengan harapan piring beranak seperti telur sebelumnya.

Empat hari pun berlalu lagi dan Abu Nawas mengembalikan piring sebanyak tiga buah. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hati si tuan tanah cukup gembira. Ia berpikir tidak apalah hanya beranak satu, karena bisa saja seseorang itu mempunyai anak satu, dua bahkan tidak memiliki anak sama sekali. Seperti biasa, ia kembali menawarkan pinjaman uang kepada Abu Nawas, Abu Nawas tetap menolak, dengan segala cara bujuk rayu akhirnya tuan tanah yang tamak Abu Nawas setuju untuk meminjam uang padanya. Tidak tanggung-tanggung ia diberi pinjaman sebanyak 1000 dinar, uang sebanyak itu cukup untuk membayar upah selama satu bulan untuk semua orang yang bekerja pada tuan tanah tersebut. Setelah menerima pinjaman uang 1000 dinar, Abu Nawas segera pamit meninggalkan si tuan tanah.

Hari-hari terus berlalu, Tuan tanah harap-harap cemas, tidak terasa sudah sampai satu bulan. Abu Nawas juga tidak kunjung datang kerumahnya mengembalikan pinjamannya yang sudah beranak. Karena sudah tidak sabar, dengan perasaan gembira si tuan tanah berangkat menuju rumah Abu Nawas bersama beberapa pengawal. Namun sayang, ketika sampai dirumah Abu Nawas ia mendapat berita yang sangat mengejutkan.
"Sayang sekali Tuan, uang yang tuan pinjamkan, bukannya beranak, malah tiga hari setelah saya bawa pulang, mati mendadak." Ujar Abu Nawas.

Mendengar itu, si tuan tanah menjadi sangat marah.

Abu Nawas hampir dipukuli oleh para pengawal tuan tanah, tapi untung saja tidak jadi karena pada saat itu ada rombongan pekerja yang baru pulang.

Tuan tanah pun segera kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. keesokannya ia mengadukan Abu Nawas ke pengadilan dan berharap Abu Nawas dihukum gantung atau bahkan dihukum rajam.

Di depan hakim, Abu Nawas melakukan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Pengadilan pun memutuskan bahwa Abu Nawas tidak bersalah karena sangat masuk akal kalau sesuatu yang bisa beranak pasti bisa mati. Seketika itu juga tuan tanah yang tamak itu jatuh pingsan dan Abu Nawas pun terbebas dari segala hukuman. (Abu nawas kocak dan bijak: kaminggi apps)

Comments